11 Juni 2020

Perhutani dan PT. Indonesia Power Bahas Skema Rantai Pasokan dan Harga Pokok dan Harga Pokok Produksi Wood Chip

Perhutani dan PT. Indonesia Power Bahas Skema Rantai Pasokan dan Harga Pokok dan Harga Pokok  Produksi  Wood Chip

 

PUSLITBANG, PERHUTANI (09/06/2020) | Perum Perhutani (Tim Direksi dan Puslitbang) melakukan pertemuan virtual atau konferensi vidio (konvid) dengan jajaran PT. Indonesia Power, pada Senin (08/06).

Diskusi virtual ini sebagai tindak lanjut Nota Kesepahaman (MOU) Nomor 16.MoU/061/IP/2020 dan Nomor 07/MoU/DIR/2020 tentang Kerja Sama Penyediaan Biomassa untuk Cofiring Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang telah ditandatangani PT. Indonesia Power dan Perhutani pada tahun 2020 dan kelanjutan dari diskusi-diskusi virtual sebelumnya yang dilakukan kedua belah pihak. Konvid tersebut juga sebagai sarana komunikasi serta koordinasi yang efisien dan efektif di tengah pandemi covid-19 saat ini. Fokus diskusi adalah tentang skema rantai pasokan dan harga pokok produksi wood chip (HPP WC).

 

Konvid dibuka oleh Maman Rosmantika, Kepala Divisi Produksi dan Industri, Kantor Pusat Perhutani serta Mochamad Soleh, Head of Research, Innovation And Knowledge Management dari PT. Indonesia Power. Kemudian dilanjutkan paparan oleh Moch Farid Januardi, Ketua Tim PMU Pengembangan Tanaman Biomassa Perhutani, tentang skema rantai pasokan wood chip (WC) dan Iwan Gunawan, Peneliti Puslitbang Perhutani, tentang perhitungan HPP WC.

 

M Farid J menjelaskan bahwa peredaran hasil hutan atau Penatausahaan Hasil Hutan (PUHH) sangat ketat dan diatur regulasinya oleh Pemerintah (Kementerian LHK) sehingga perlu dipertimbangkan proses rantai pasokan WC yang paling efisien dan sesuai peraturan. Dijelaskan ada tiga  skema rantai pasokan wood chip ke PLTU yaitu 1). Kayu dikirim dan diolah menjadi WC di tempat PLTU, 2). Kayu/WC diolah Perhutani (Industri), 3). Makloon (jasa pihak ke tiga).  “Dari ke tiga skema rantai pasokan wood chip tersebut, dengan mempertimbangkan kendala-kendala yang ada, keterbatasan waktus, serta plus-minus ke tiganya, maka yang paling cepat bisa dilakukan saat ini adalah skema pertama”, jelas M Farid J menutup paparannya.

 

Pada akhir konvid, selain skema rantai pasokan WC, juga disepakati atau dipertimbangkan beberapa hal, antara lain; Perhutani akan membantu sepenuhnya proses jual beli kayu yang akan dijadikan bahan baku WC (akun POTP, SIPUHH, Ganis, dll), Perhutani menyiapkan informasi mengenai kebutuhan sarpra dan luas tempat yang akan digunakan sebagai lokasi pengolahan kayu menjadi WC (lay out), menyusun time frame kegiatan, Tim PT. Indonesia Power akan mempelajari lebih lanjut mengenai hasil perhitungan HPP WC yang disampaikan Perhutani, draft PKS akan dilakukan penyesuaian sesuai dengan skema pemenuhan WC yang telah disepakati oleh kedua belah pihak (Skema 1), serta rencana kunjungan lapangan ke PLTU Lontar.(Kom-PHT/Puslitbang/HRT)